Tambang nikel di Morowali dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah, kini berdiri di garis depan ekspansi industri baterai kendaraan listrik global. Kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menjadi simbol dari ambisi hilirisasi nasional yaitu ratusan ribu hektare konsesi tambang, puluhan ribu pekerja, dan ekspor nikel yang menembus USD 34 miliar pada 2023. Wilayah tambang di Morowali saat ini dikuasai oleh gabungan korporasi besar (IMIP, BDM/SMI, TPI), perusahaan menengah (Anugrah Tambang Sejahtera), dan puluhan IUP lokal. Diversitas ini mencerminkan skala dan kompleksitas industri nikel di sana. Tiap entitas memiliki unit operasional mulai dari hulu, smelter, hingga infrastruktur pendukung.
Namun di balik keberhasilan makroekonomi itu, terbentang lanskap yang semakin rapuh terancam oleh longsor, banjir bandang, dan runtuhnya sistem ekologis yang menopang kehidupan warga. Penambangan nikel di Morowali umumnya dilakukan dengan sistem tambang terbuka. Proses ini mengubah tutupan lahan secara drastis. Data dari Forest Watch Indonesia (2023) menunjukkan bahwa lebih dari 50.000 hektare hutan di wilayah Sulawesi Tengah telah mengalami deforestasi selama periode 2010-2020, dengan konsentrasi tertinggi di sekitar area konsesi tambang nikel.
Sejak 2020, izin usaha pertambangan (IUP) di Morowali dan Morowali Utara melonjak tajam. Saat ini terdapat sekitar 100 IUP aktif di dua kabupaten tersebut, mencakup lebih dari 155.000 hektare wilayah konsesi. Dampaknya nyata: tutupan hutan menyusut, fungsi daerah aliran sungai terganggu, dan tanah kehilangan stabilitasnya. Kawasan yang dulunya berperan sebagai penyangga ekologis kini menjadi lanskap industri terbuka yang rentan terhadap bencana. Kawasan Morowali memiliki topografi kompleks dengan kombinasi hutan, perbukitan, dan aliran sungai. Perubahan lanskap akibat tambang meningkatkan kerentanan terhadap bencana, terutama tanah longsor dan banjir bandang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB, 2023) telah memasukkan Morowali sebagai salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan bencana geologis dan hidrometeorologis tinggi di Sulawesi Tengah.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 384 peristiwa banjir terjadi di Sulawesi Tengah sepanjang 2002 hingga April 2023, dengan lonjakan kejadian pada 2020-2022. Di Morowali sendiri, tercatat lebih dari 112 IUP aktif, banyak di antaranya berada di zona resapan air dan hutan lindung, memperparah erosi, sedimentasi sungai, dan frekuensi banjir bandang. Hilangnya vegetasi menyebabkan daya serap tanah menurun. Ketika musim hujan tiba, air hujan tidak tertahan dan langsung mengalir ke lereng dan sungai dengan volume besar. Kejadian bencana yang terjadi di Morowali menunjukkan lemahnya integrasi antara industri dan mitigasi bencana, lemahnya integrasi pendekatan berbasis ekosistem ke dalam strategi pengurangan risiko bencana di Morowali.
Selanjutnya

